Nama : Rahmad
fikri
Nim : tp 161560
Tugas
terstuktur desain pembelajaran berbasis teknologi
"DESAIN
PEMBELAJARAN BERBASIS TIK"
I.PENDAHULUAN
Buku ini berjudul Desain Pembelajaran berbasis TIK, dikarang oleh
Prof.Dr. Mukhtar, M.Pd dan Dr. Iskandar, M.Pd. Diterbitkan di Jakarta
tahun 2012 oleh penerbit Referensi. Ketebalan buku ini terdiri dari
342 halaman.
II. RINGKASAN
BUKU
A.
Bagian
pertama (orientasi baru didunia pembelajaran)
Isi Bab I ini terdiri dari : Pendahuluan, karakteristik Sekolah,
mengapa perlu desain pembelajaran, desain kurikulum dan pengembangan guru dan
peserta didik berbasis teknologi informasi.
Dalam sub bab “Pendahuluan” diuraikan tentang munculnya era
globalisasi di penghujung millennium kedua ini, telah membuka wawasan dan
kesadaran masyarakat, dengan sejumlah harapan sekaligus kecemasan.
Harapan-harapan ini muncul karena ada perbaikan kualitas hidup dan kehidupan
disatu sisi sebagai akibat peguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
serta informasi dan teknologi (INFOTEK), dan disisi lain muncul juga
kecemasan-kecemasan, hal ini disebabkan oleh adanya perubahan yang terlalu
cepat menyebabkan kondisi masyarakat sulit untuk beradaptasi di dalamnya.
Bangunan bagi masyarakat menjadi salah satu pondasi teknologi dan
informasi dalam rentang waktu yang sangat singkat telah menjadi salah satu
pondasi bagi masyarakat modern, pemahaman dan penguasaan teknologi informasi
merupakan jantung dalam dunia pendidikan.teknologi informasi (Internet) sudah
merasuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari khususnya dunia pendidikan.
Teknologi informasi internet yang mendobrak batas ruang dan
waktu menciptakan peluang dan juga masalah-masalah baru bagi dunia pendidikan
kita. Dengan kata lain satu sisi teknologi di hasilkan oleh orang-orang yang
pendidikan yang berasal dari lembaga pendidikan, disatu sisi lembaga pendidikan
membutuhkan teknologi. Dengan lajunya perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi dewasa ini, ditambah dengan berkembangnya dunia maya yang
website/situs diseluruh dunia.
Salah satu tujuan UNISCO adalah memastikan bahwa semua Negara, baik
yang berkembang, telah mempunyai akses kepada fasilitas-fasilitas pendidikan
yang baik yang sangat penting untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas yang
diharapkan mampu bersaing dan bersanding serta kontributif terhadap bangsa dan
Negara.
Hari ini para peserta didik mulai dari SD,SMP, SMA, serta perguruan
tinggi sudah diperkenalkan dengan dunia informationTechnologi . dengan
diterapkan model pembelajaran berbasis multimedia akan membantu siswa dan
mahasiswa agar lebih melek lagi dengan dunia informasi teknologi karena tidak
semua peserta didik kenal betul dengan dunia ini. Banyaknya harapan yang belum
terpenuhi, dan tingkat kecemasan yang tinggi menuntut adanya pembekalan bagi
lembaga pendidikan, agar terjadi akselerasi ke arah pembelajaran masyarakat.
Akselerasi pembelajaran masyarakat tersebut menuntut kesiapan sekolah, baik
secara internal maupun secara eksternal.
Secara internal, pendidikan yang bertumpu pada sekolah melakukan
persiapan-persiapan dan pembenahan-pembenahan, baik dari segi sarana dan
prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, proses pembelajaran, pembiayaan,
dan manajemen. Secara eksternal pendidikan bertumpu di sekolah ini, secara mutlak
tidak dapat melakukan fungsi-fungsi manajerialnya sendiri, hal ini disebabkan
karena keterbatasan baik dari segi manajemen, profesionalitas pendidik, tingkat
penguasaan metodologis pengajaran, serta pembiayaan.
Lembaga pendidik yang berkualitas merupakan dambaan setiap komponen
masyarakat, baik komponen masyarakat sekolah yang terdiri dari
peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan , maupun masyarakat dalam arti
luas yaitu orang tua atau masyarakat lain dari pengguna pendidikan atau
simpatisan yang menaruh perhatian terhadap kuantitas dan kualitas output
sekolah, yang pada akhirnyaakan menggunakan jasa pendidikan yang berkualitas
tersebut.
Salah satu kendala untuk mewujudkan sekolah yang menghasilkan
produk yang optimal yaitu pihak sekolah hanya mendekati dari satu sisi
misalnya, dari sisi peningkatan kualitas penndidik dan tenaga kependidikan;
sisi sarana dan prasarana pendidikan; sisi proses pembelajarannya; atau hanya
melihatnya dari sisi peserta didik; bahkan tidak menutup kemungkinan dari hasil
prosesnya saja, misalnya dalam bentuk hasil ujian.
Pada Sub Bab karakteristik sekolah, diuraikan Adanya kebijakan
dalam rangka mengintegrasikan informasi kedalam pendidikan merupakan suatu
terobosan yang diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Sejauh ini pengembangan teknologi Informasi terkonsentrasi di sekolah kota
sedangkan sekolah di pusat desa dan di ujung desa sebatas retorika. Walaupun
komitmen pemerintah menyatakan melakukan kebijakan internet masuk desa.
Sehingga terjadi kesenjangan pendidikan sekolah pusat kota dan sekolah pusat
desa serta sekolah di ujung desa. Banyak faktor yang menyebabkan terjadi
kesenjangan ini, salah satunya adalah infrastruktur sekolah belum memenuhi
standar, fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak teknologi informasi
belum merata (computer, jaringan internet, disamping itu distribusi guru yang
belum merata). Kondisi ini diperparah dengan tidak sesuainya kualifikasi guru
yang mengajar suatu mata pelajaran, serta guru lamban dalam memahami dam menguasai
informasi teknologi yang disinergikan di dalam proses pembelajaran dalam
mengintegrasikan Teknologi & Komunikasi ke dalam pendidikan, kita mampu
memperkecil kesenjangan pendidikan, kita mampu memperkecil kesenjangan antara
pusat kota dan ujung desa.
Pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan instan, namun
lembaga pendidikan yang masih menggunakan sistem tradisional dalam proses
pembelajaran di jenjang sekolah dan perguruan tinggi yang kita anggap
memberikan informasi dengan sangat lambat dan tidak seiring dengan perkembangan
teknologi informasi.
Pada
sub bab Mengapa perlu desain pembelajaran
Desain pembelajaran
merupakan fungsi yang sangat esensial karena pengelolan dan evaluasi
pembelajaran pada hakikatnya tergantung pada desain pembelajaran yang telah
dibuat oleh pendidik. Perancangan setiap kegiatan pembelajaran harus dilakukan
secara sistematik.
Upaya pengembangan desain
pembelajaran ini amat penting untuk dilakukan oleh seseorang pendidik. Esensi
dari desain pembelajaran adalah merancang seperangkat tindakan yang bertujuan
untuk mengubah situasi yang diinginkan. Demikian pula pengembangan bahan
pembelajaran dan evaluasi, baik proses maupun hasilnya. Berdasarkan UU 14 Tahun
2005 menyatakan bahwa guru adalah pendidik yang professional, profesi adalah
pekerjaan profesi sebagai pendidik harus memiliki keterampilan desain
pembelajaaran, selain dia harus memfasilitasi dirinya dengan seperangkat
pengalaman, keterampilan dan pengetahuan tentang keguruan sesuai keilmuan
yang ditekuninya.
Banyak guru dalam mengajar, masih
terkesan gugur kewajiban. Guru semacam ini, relative tidak memerlukan suatu
desain yang baik, strategis, kiat dan berbagai metode tertentu dalam mengajar.
Baginya, bagaimana sebuah peristiwa embelajaran dapat berlangsung. Mereka tidak
peduli dengan latar belakang siswa dan karakteristiknya, mereka merasa tidak
perlu membuat perencanaan mengajar, perencanaan dan pengembangan tujuan,
kompetensi dan indicator, perencanaan pesan, mereka mengabaikan penggunaan media
dalam pembelajaran, mereka mengabaikan di dalam pembelajran selain ada evaluasi
sumatif dan formatif juga harud dilakukan evaluasi komperehensif dan alternatif
yang lebih berdasarkan pada fortopolio dan diutamakan penilaian kinerja peserta
didik berbasis kelas, dan mereka juga mengabaikan belajar tuntas, dan yang
tidak kalah penting yang mereka abaikan adalah aspek-aspek akademis,
psikologis, sosiologis, dan budaya dalam pembelajaran. buku ini memuat
tuntunan praktis dan teknis bagi calon guru, mahasiswa dan praktisi pendidikan
lainnya, yang memiliki kepedulian dan ingin menjadi menjadi guru professional
dan kompetensial.
Pada sub bab desain kurikulum dan pengembangan guru peserta didik
berbasis teknologi informasi menguraikan perkembangan teknologi informasi
menciptakan perubahan-perubahan dalam pekerjaan, kompetensi yang dibutuh pun
berubah. Pengggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah merupakan
satu keharusan yang harus dilakukan oleh para pendidik dan peserta didik dalam
proses pembelajaran, proses pembelajaran sekolah hari ini tertantang dengan
hadirnya teknologi informasi (internet).
B.
Bagian
kedua (desain tujuan pembelaran kompetensi pembelajaran)
Pada bab II berisi tentang desain tujuan pembelajaran, bab ini
terdiri dari sub bab pendahuluan tujuan pendidikan dan pengajaran diartikan
sebagai suatu bentuk usaha untuk memberikan rumusan hasil yang diharapkan dari
siswa/mahasiswa sebagai subjek belajar, sehingga member kearah mana proses
belajar mengajar itu di bawa dan dilaksanakan.
Proses pembelajaran penyelenggaraan pendidikan secara formal dan
non formal di Indonesia sudah berlangsung lama, namun sistem penyelenggaraan
dan hasil belum sesuai yang kita harapkan salah satunya fakta konkritnya yaitu
masih terlalu sedikit para pendidik di sekolah dan perguruan tinggi yang
menerapkan rumusan tujuan instruksional secara benar dan jelas.
Pada sub bab ini diuraikan keharusan tujuan pembelajaran karena
merupakan suatu keharusan bagi dosen, guru (pendidik) dalam rangka merumuskan
atau merancang bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.
Pada sub bab manfaat tujuan pembelajaran. tujuan instruksional
lahir dangan diawali oleh usaha B.F.Skinner pada tahun 1950 yang menerapkan
ilmu behavioris kemudian dari teori skinner Robert mager menyusun buku dangan
judul instruksional objective (1962) yang pada tahun 1970 an telah diterapkan
secara meluas di seluruh dunia termasuk Indonesia. Teori ini diterapkan pada
saat pengajar merumuskan atau merancang satuan pelajaran dan bahan pelajaran.
Pada sub bab taksnomi tujuan pembelajaran. tujuan instruksional
dituangkan dalam tiga kawasan intruksional yaitu kawasan kognitf, afektif, dan
psikomotorik. Menurut benyamin S. Bloom dan D. Kratwool taksonomi diartika
sebagai salah satu metode klasifikasi tujuan instruksional secara berjenjang
dan progresif ke tingkat yang lebih tinggi.
pada sub bab teknik menulis tujuan pembelajaran diuraikan
secara umum tujuan instruksional di bagi dua yakni 1) tujuan pembelajaran
umum (TPU) yang biasa disebut juga maksud, atau tujuan akhir. 2) tujuan
pembelajaran khusus (TPK) disebut tujuan saja.
Pada sub bab format untuk menulis tujuan pembelajaran diuraikan tata bahasa
merupakan unsur yang perlu diperhatikan dalam menulis tujuan. Sebab dari unsur
tersebut dapat dilihat konsep atau proses berpikir seseorang dalam menuangkan
ide-idenya. Menurut mager tujuan pembelajaran sebaiknya dinyatakan dengan
jelas, artinya tanpa diberi penjelasan tambahan apapun, pembaca (guru,siswa
atau sasaran didik lainnya sudah dapat menangkap maksudnya.
C.
Bagian
ketiga (desain materi pembelajaran)
Pada bab III
ini diuraikan tentang merancang dan mengorganisasi materi pelajaran. Materi
atau bahan pelajaran yang kita rancang, mesti telah terseleksi dan terorganisir
disesuaikan tingkat kemampuan siswa yang akan belajar, apakah muatan itu pada
ranah pengetahuan tingkat rendah, menengah dan tinggi demikian juga ranah
pemahaman dan ranah keterampilan.
Pada sub bab menyusun materi bahan ajar diuraikan tingkat belajar
yang paling rendah menurut Gagne adalah informasi verbal, karena tingkat
ini menuntut hafalan, mengingat kembali atau kemampuan menentukan berbagai
fakta khusus.
Pada sub bab tanggungjawab professional menguraikan guru harus
memiliki tanggungjawab atas muatan/materi pelajaran yang di sampaikan terhadap
siswa secara professional, tanggungjawab tersebut secara penuh atau
akuntabilitinya. Menetapkan tujuan instruksional khusus. Tidak hanya itu
pelayanan terhadap siswa dalam berinteraksi, memberi kesempatan siswa untuk
bertanya lebih banyak, waktu lebih banyak dikuasai oleh siswa dan siswalah
sebagai sebagai titik pusat belajar.
D.
Bagian
ke empat (desain karakteristik peserta didik)
Pada bab IV berisi tentang “Desain karakteristik peserta didik, ini
terdiri dari sub-sub bab yaitu karakteristik peserta didik diantaranya 1)
entering behavior (perilaku awal) yaitu perilaku yang diperilaku terminal
tertentu yang baru. 2) latar belakang akademis dan sosial. Faktor-faktor
akademis, sosial dan psikologis.
Sub bab perkembangan individu peserta didik pengetahuan tentang
perkembangan individu murid, siswa, dan mahasiswa (peserta didik) dalam proses
pembelajaran sanga penting bagi guru, dosen (pendidik), orang tua, stakeheldor
dalam dunia pendidikan formal maupun non formal.
Pada sub bab Belajar dan fase-fase prkembangan individu diuraikan
fase-fase perkembangkan pada manusia sejak dari masa kanak-kanak sampai tua,
dikemukan oleh Havinghurst yang dikutip oleh Made pidarta, 1997 sbb: fase
perkembangan masa kanak-kanak, masa anak, masa remaja, masa dewasa awal, masa
setengah baya, masa tua.
Pada sub bab perkembangan individu secara didaktis diuraikan masa
usia pra sekolah, masa usia jenjang pendidikan dasar, masa usia jenjang
pendidikan menengah (masa remaja), masa usia jenjang pendidikan tinggi (umur 18
hingga umur 25 tahun).
E.
Bagian
ke lima (desain proses pembelajaran)
Pada Bab ini desain proses pembelajaran. Pada bab ini
diuraikan proses pembelajaran merupakan kegiatan fundamental dalam proses
pendidikan yang mana terjadinya proses belajar yang tidak terlepas dari
proses mengajar.
Pada sub bab konsep dan makna belajar. Belajar di defenisikan
sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi
dari suatu situasi yang di hadapi, dengan keadaan bahwa karakteristik-
karakteristik dari perubahan sementara dari organisme. Makna dari proses belajar
ditandai dengan perubahan tingkah laku, karena memperoleh pengalaman baru. Pada
sub bab teori-teori tentang pembelajaran dikemukakan aliran psikologi yang
sangat mempengaruhi pembelajaran yaitu 1) teori belajar behaviorisme yang
memandang individu dari sisi jasmaniah tanpa melihat aspek mental. Yang
lebih menekankan pada tingkah laku manusia. 2) teori belajar humanistic yang
dipelopori oleh abrham maslow yang melihat pada sisi perkembangan kepribadian
manusia daripada berfokus pada ketidaknormalan atau sakit seperti yang dilihat
oleh teori psikoanalisis freud. 3) teori belajar konstruktivisme merupakan
teori perkembangan menurut piaget yang salah satu teorinya memahami
perkembangan kognitif. Piaget mengatakan bahwa perkembangan kognitif individu
meliputi empat tahap yaitu: (1) sensory motor, (2) pre operational, (3)
concrete operational, (4) formal operational.
Pada sub bab penetapan standar proses pembelajaran diuraikan yaitu
perencanan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian
hasil belajar dan pengawasan proses pembelajaran, untuk terwujudnya proses
proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Pada sub bab model-model
pembelajaran diuraikan 1) model pembelajaran kooperatif yang merupakan
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi saling asuh
antar siswa untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat
menimbulkan permusuhan. 2) model pembelajaran remedial merupakan layanan
pendidikan yang diberikan pesera didik untuk memperbaiki prestasi belajarnya
sehingga mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan.
Pada sub bab metode-metodedalam pembelajaran diuraikan beberapa
metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran yaitu (1) metode ceramah,
(2) metode Tanya jawab, (3) metode diskusi, (4) metode tugas dan
resitasi, (5) metode kerja kelompok, (6) metode demonstrasi dan eksperimen (7)
metode sosiodrama dan eksperimen (8)metode problem solving (9)metode susun regu
(10) metode latihan (drill), (11) metode karyawisata.
Pada sub bab faktor-faktor dominan dalam peningkatan mutu proses
pembelajaran di sekolah seperti yang disarankan oleh Sudarwan Danim yaitu
dengann melibatkan lima faktor yang dominan seperti kepemimpinan kepala
sekolah, siswa, guru, kurikulum, dan jaringan kerjasama. Pada sub bab strategi
peningkatan mutu proses pembelajaran diuaraikan untuk meningkatakan mutu
pendidikan pembelajaran harus di awali dengan strategi peningkatan pemerataan
pendidikan, dimana unsur makro dan mikro pendiikan ikut terlibat untuk
menciptakan (equality dan equity).
E.Bagian ke
enam (desain interaksi pembelajaran)
Pada Bab VI ini, berisi tentang proses interaksi sehingga
menurut (Surakmad, 1986) menggolongkan interaksi kepada tiga hal yakni
pengalaman riil yaitu segenap media di dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman
buatan yaitu segenap media yang sengaja diciptakan untuk mendekatkan pengertian
pada pengalaman riil. Pengalaman verbal yaitu dimana bahasa adalah alat utama,
baik lisan maupun tertulis.
Pada sub bab memahami ciri-ciri interaksi pembelajaran diuraikan
komponen pendukung interaksi edukatif yaitu tujuan yang ingin dicapai, ada
bahan/pesan yang menjadi isi interaksi, ada siswa yang aktif, ada guru yang
berperan, ada metode yang relevan, ada situasi yang mendukung dalam proses
pembelajaran, ada penilaian terhadap hasil interksi.
F.
Bagian
ke tujuh (desain pesan pembelajaran)
Pada bab VII ini diuraikan tentang desain pesan pembelajaran. pada
sub bab hakikat merancang pesan diuaraikan rancangan pesan melibatkan
perencanaan untuk manipulasi bentuk fisik pesan. Hal ini mencakup
prinsip-prinsip perhatian, persepsi, ingatan yang menunjukkan spesifikasi pada
bentuk pesan yang membantu pengirim dan penerima.
Pada sub bab jenis-jenis pesan diuaraikan pesan verbal, pesan non
verbal. Pada sub bab interaksi pesan verbal dan non verbal diuraikan dalam
suatu komunikasi berbagai saluran, konteks dan pesan terjadi secara serentak.
Semuanya tidak pernah terpisah secara absolut, tapi terinteraksi. Maka pesan
verbal, konteks, ekspresi muka dan suara, satu sama lain saling mempengaruhi
dan memberikan peran yang semuanya amat sangat menetukan bagi interpretasi
serta responnya.
Pada sub bab proses pembelajran dan pengemasan pesan diuraikan di
dalam suatu pembelajran guru memberikan atau menyampaikan informasi kepada
siswa dalam bentuk pesan tertulis dan lisan. Pada sub bab pendekatan dalam
penyampaian pesan dijelaskan pendekatan yang diambil guru mengajar sebagian
besar bersifat taktis. Pendekatan yang berkisar pada pemilihan alternatif-
alternatif. Pada sub bab pendekatan psikologi dalam berkomunikasi diuraikan
proses komunikasi timbal balik disebutkan juga interaksi dalam arti saling
mempengaruhi individu yang satu dengan individu lainnya.
G.
Bagian
ke delapan ( desain kelas dan peserta didik)
Pada bab ini diuraikan desain kelas dan peserta didik pada sub bab
ukuran kelompok peserta didik di kelas dijelasakan berdasarkan pada pelaksanaan
pendidikan teori pendidikan. Pada sub bab ukuran kelas optimal dibagi menjadi
kelas besar dan kelas kecil.
Pada sub bab rentang control jumlah kelas yang besar sangat
mempengaruhi eektifitas pembelajaran dan berpengaruh pula dalam komunikasi
pembelajaran. pada sub bab konsekuensi dan bertambah besarnya kelompok
pada umumnya penelitian membuktikan bahwa besanya kelompok mempunyai beberapa
akibat.
H.
Bagian
ke sembilan (desain pengelolaan kelas)
Pada bab ini diuraikan bagaimana desain pengelolaan kelas.
Pada sub bab pengertian pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang
terencana dan sengaja dilakukan oleh guru dosen dengan tujuan menciptakan dan
mempertahankan kondisi optimal. Pada sub bab penerapan asas-asas didaktik dalam
proses pembelajaran di kelas meliputi asas keterlibatn belajar siswa secara
aktif di kelas, asas memberikan motivasi.
Pada sub bab dimensi pengelolaan kelas dibagi menjadi dimensi
pencegahan, dimensi tindakan, dan dimensi penyembuhan. Pada sub bab kondisi dan
situasi belajar di kelas diuaraikan berdasarkan kondisi fisik. Pada
sub bab komponen pengelolaan kelas meliputi tindakan preventif dan tindakan
refresif.
I.
Bagian
ke sepuluh ( desain strategi dan meode pembelajaran )
Pada bab ini diuraikan desain strategi dan metode pembelajaran.
pada pemilihan strategi pembelajaran kita mengajukan dua pertanyaan yaitu
seberapa jauh strategi yang di susun itu di dukung dengan teori-teori
psikologi dan teori pembelajaran? kedua, seberapa jauh strategi ini disusun
secara tepat dalam membuat siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah
detetapkan sebelumnya. Pada sub bab komponen belajar dibagi menjadi komponen
utama pertama yaitu urutan kegiatan pembelajaran urutan kedua sub komponen
penyajian, ketiga sub komponen penutup.
J.
Bagian
ke sebelas ( desain media intruksional )
Pada bab ini diuraikan desain media dan sumber pembelajaran
diuraikan berdasarkan pemanfaatn media, difusi inovasi, implementasi dan
instusionalisasi, kebijakan dan peraturan-peraturan. Pada sub bab klasifikasi
penggolongan media pembelajaran digolongkan berdasarkan media audio (media
dengar). Pada sub bab sumber pembelajaran dibagi dua yakni sumber pembelajran
yang sengaja direncanakan dan sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan.
Pada sub bab desain pengembangan sumber belajar mencakup apa saja yang
digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar dan menampilkan kompetensinya.
Sumber belajar meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan latar. Pada sub
bab pemberdayaaan sumber belajar Sumber belajar meliputi pesan, orang, bahan,
alat, teknik dan latar. Pada sub bab ruang kelas sebagai sumber belajar dapat
dilakukan brbagai aktivitas pendidikan dan pengajaran dengan berbagaai
pendekatan mengajar.
K.
Bagian
ke duabelas ( desain tugas dan tagihan belajar )
Pada bab ini diuraikan desain tugas dan tagihan belajar diuraikan
berdasrkan jenis tagihan belajar dan tugas, sumber informasi, dan merinci
tugas.
L.
Bagian
ke tigabelas (desain evaluasi pembelajaran )
Pada bab desain pembelajaran. pada sub bab jenis-jenis pola menilai
hasil belajar di bagi menjadi ujian tertulis, ujian objektif. Pada sub
bab merancang alat ukur setiap alat ukur memiliki keunggulan dan kekurangan.
M.
Bagian
ke empatbelas (profesi dan kompetensi keguruan )
Pada bab ini diuraikan pada sub bab profesi dan kompetensi guru
dibagi menjadi konsepsi dan cirri-ciri profesi, guru sebagai profesi, mengapa
guru harus professional, kompetensi guru.
N.
Bagian
ke limabelas ( menjadi guru yang profesional )
Pada bab ini diuraikan menjad guru profesionalfiuraikan berdasrkan
paradigma profesionalitas guru, guru sebagai profesi, mengapa guru harus
professional dalam mendesain pembelajaran, profesionalisme guru, etika profesi
keguruan.
O.
Bagian
ke enambelas ( desain penelitian tindakan kelas sebagai model pengembangan
profesi pendidik )
Pada bab ini diuraikan desain penelitian tindakan kelas sebagai
model pengembangan peserta didik. Diuraikan mengapa perlu penelitian tindakan
kelas (PTK) dalam pembelajaran, urgensi penelitian tindakan kelas bagi guru dan
dosen, keharusan guru dan dosen meneliti, langkah-langkah penelitian tindakan
kelas,kajian teori, perumusan hipotesis tindakan, pembuatan rencana dan
prosedur tindakan.
P.
Bagian
ke tujuhbelas ( desain pembelajaran berbasis teknologi informasi )
Pada bab ini desain pembelajaran berbasis teknologi informasi diuraikan
berdasarkan pembelajaran berbasis internet, metode pembelajaran berbasis
internet, media pembelajaran berbasis komputer, kompetensi profesi guru
berbasis ICT dan pendidikan dan penyiapan SDM berbasis IT.